Kupang, Sirkulasi | Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah timur Indonesia pada Sabtu pagi, menewaskan dua orang, memicu kepanikan massal, serta meruntuhkan bangunan dan rumah di kawasan yang rawan gempa mematikan tersebut.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), guncangan utama terjadi pada pukul 04.58 Waktu Indonesia Barat (WIB) atau 05.58 Waktu Indonesia Tengah (WITA). Pusat gempa (episenter) terletak di laut, 30 kilometer di timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada kedalaman dangkal 10 kilometer.
“Gempa bumi dengan magnitudo 7,7 telah terjadi,” demikian pengumuman BMKG melalui akun X resminya pada Sabtu pagi.
Menyusul gempa tersebut, BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami yang mencakup empat provinsi: Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.
Alat pemantau pasang surut (tide gauge) milik BMKG kemudian mendeteksi gelombang tsunami kecil di beberapa wilayah pesisir, termasuk Sikka pada pukul 05.03 WIB (0,19 meter), Labuan Bajo pada pukul 05.26 WIB (0,36 meter), dan Dompu, NTB, pada pukul 05.29 WIB (0,17 meter).
Pihak berwenang mengimbau warga di wilayah pesisir untuk tetap waspada dan mengikuti instruksi darurat yang dikeluarkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan BMKG.
Guncangan Terasa hingga Bali dan Lombok
Getaran gempa terasa hingga ke Pulau Lombok, NTB, di mana warga bergegas keluar rumah saat sedang melakukan aktivitas pagi hari.
“Gempa ini sangat mengejutkan karena terjadi saat kami sedang sibuk menyiapkan anak-anak untuk berangkat sekolah,” ujar Veronika, warga Mataram, NTB, sebagaimana dilaporkan oleh Antara. Ia menambahkan bahwa guncangan terasa cukup lama hingga menyebabkan rasa pusing ringan.
Warga Lombok lainnya, Adam, menceritakan pengalamannya terbangun saat kamar tidurnya berguncang hebat. “Saya berharap tidak terjadi hal buruk di wilayah pusat gempa,” ujarnya mengutip Antara.
BMKG terus memantau ketinggian muka air laut di wilayah tersebut serta potensi gempa susulan, sembari mengimbau masyarakat untuk hanya mengandalkan saluran informasi resmi pemerintah guna mendapatkan kabar terbaru.(*)



















