KARANGASEM, Sirkulasi | Sebuah inisiatif lingkungan yang memadukan spiritualitas Hindu dengan aksi nyata penyelamatan bumi digelar di kaki Pura Agung Besakih. Komunitas Pemuda Adat (Sekaa Teruna) dilatih mengolah sampah canang sisa sarana persembahyangan yang selama ini menumpuk menjadi kompos bernilai guna.
Yang membuat kegiatan ini istimewa: pelatihan tersebut didukung pendanaan dari Program FOLU Net Sink 2030 melalui kerja sama Indonesia–Norwegia Tahap Keempat (FOLU-NC4), sebuah skema pembiayaan iklim internasional untuk menekan emisi dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan.
Aksi Iklim Dimulai dari Pura Kegiatan bertajuk “Pelatihan Pembuatan Kompos Sampah Canang pada Komunitas Pemuda Adat (Sekaa Teruna) di Lingkungan Pura Agung Besakih” ini diselenggarakan oleh Yayasan Rare Semesta pada Minggu, 31 Mei 2026, mulai pukul 09.00 WITA di Natah Edukasi Rare Semesta, Banjar Dinas Besakih Kawan, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali.
Pelatihan ini merupakan bagian dari Layanan Dana Masyarakat untuk Lingkungan (Small Grant) Periode ke-4 yang dikelola Rare Semesta.
Acara dibuka secara resmi oleh Kelihan Desa Adat Besakih, Jro Mangku Widiartha. Tiim Pelaksana mengucapkan terima kasih kepada Project Director FOLU Net Sink 2030 melalui Dukungan Sumber Dana Kerja Sama Indonesia–Norwegia Tahap Keempat (FOLU-NC4), dan Direktur Utama Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH), yang menegaskan turut berkontribusi pada komitmen pendanaan iklim hingga ke tingkat akar rumput.
Pura Besakih, Bumi Pertiwi, dan Generasi Muda
Salah satu sorotan kegiatan adalah paparan panel bertema ekoteologi gagasan bahwa menjaga kesucian pura sejatinya adalah menjaga bumi. Dua narasumber menghadirkan perspektif tersebut: Prof. Dr. Gusti Ngurah Ketut Putera, S.Ag., M.Pd. membawakan “Relevansi Manajemen Pendidikan Hindu dalam Penguatan Ekoteologi di Pura Besakih untuk Generasi Muda”. Dr. I Wayan Agus Gunada, S.Pd.H., M.Pd. mengangkat tema “Ekoteologi: Menjaga Pura Agung Besakih, Menjaga Bumi Pertiwi”.
Pesannya jelas: tradisi dan kelestarian lingkungan bukan dua hal yang berlawanan, melainkan satu tarikan napas.
Dari Teori ke Tangan yang Mengolah
Pelatihan tidak berhenti pada gagasan. Peserta mendapat pendampingan praktik langsung: Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat oleh Dewa Ayu Agustini Posmaningsih, SKM., M.Kes. bersama Tim Poltekkes Kemenkes Denpasar.
Etnomikia Lingkungan dalam Pengelolaan Sampah Organik dan Pemanfaatan Herbal oleh Dr. I Wayan Karta, M.Si., lengkap dengan sesi praktik membuat kompos.
Tampak hadir pula tokoh-tokoh setempat, termasuk Perbekel Besakih I Wayan Benya dan Kelihan Desa Adat Besakih Jro Mangku Widiartha, bersama jajaran prajuru banjar dan pengurus Yowana.
Sampah Canang: Persoalan Lama yang Kini Punya Jalan Keluar Setiap hari, ribuan canang dipersembahkan umat Hindu di seluruh Bali dan Pura Agung Besakih sebagai pura terbesar di Pulau Dewata menjadi salah satu titik dengan volume sampah upacara tertinggi. Selama ini, sebagian besar berakhir menumpuk tanpa pengolahan.
Lewat pelatihan ini, Sekaa Teruna diharapkan menjadi motor perubahan: mengubah “sampah suci” menjadi kompos yang menyuburkan tanah, sekaligus menurunkan emisi yang lahir dari pembusukan sampah organik yang tak terkelola.
“Menjaga Pura Agung Besakih sama dengan menjaga Bumi Pertiwi.” Semangat itulah yang kini diwariskan kepada generasi muda Besakih.
Tentang Penyelenggara Kegiatan ini digerakkan oleh tim pelaksana Yayasan Rare Semesta, dengan Putu Gede Asnawa Dikta, S.Pd., M.Pd. sebagai Ketua Tim dan Bd. Luh Putu Okta Kusumadewi, S.Tr.Keb., M.Pd. sebagai Sekretaris Tim.
Inisiatif kecil dari kaki Gunung Agung ini menjadi bukti bahwa aksi iklim global dapat berakar dalam tradisi lokal dimulai dari tangan-tangan muda yang mengolah sisa persembahan menjadi harapan baru bagi bumi.(*)






















