Jakarta, Sirkulasi | Pelemahan rupiah semakin dalam selama dua hari libur panjang ini. Hari ini posisi nilai tukar rupiah sudah melampaui Rp17.800 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, pada pukul 14.00 WIB rupiah berada di level 17.846 per dolar AS. Rupiah turun sebesar 0,25 persen atau 45 poin terhadap dolar AS
Sementara indeks dolar AS terpantau menguat ke level 99,50. Pergerakan nilai tukar tetap terjadi karena meski di Indonesia pasar lbur, tapi pasar luar negeri tetap bertransaksi.
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan, rupiah pada akhir pekan ini masih tertekan oleh ketidakpastian global akibat memanasnya perang AS dan Iran. Sebagai informasi, pada Kamis (28/5/2026) dini hari waktu setempat, pasukan AS menyerang Iran.
Hal itu memicu serangan balasan Iran ke pangkalan militer AS pada pagi hari di hari yang sama.
“Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah,” ujarnya dalam keterangannya kepada media, Jumat (29/5/2026).
“Saat ini, Bank Indonesia hanya bisa melakukan intervensi di pasar internasional dan sudah melakukan intervensi sekuat mungkin. Tapi faktor eksternal lebih kuat mempengaruhi sentimen pasar,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya, Kamis, 28 Mei 2026.
Ibrahim menyebut “kelicikan” AS dalam perangnya terhadap Iran, menjadi pemicu amblasnya mata uang rupiah. Serangan AS ke Selatan Iran di tengah klaim AS soal kesepakatan damai membuat harga minyak kembali melambung.

Hari ini harga minyak dunia naik di sekitar 3 persen. Harga minyak Brent menjadi USD97 per barel dan harga minyak WTI menjadi USD91 per barel.
Situasi diperburuk dengan kembali memanasnya perang Rusia-Ukraina, setelah kedua belah pihak saling serang. Gangguan logistik untuk sumber energi bukan hanya terjadi di Timur Tengah, tapi juga di kawasan Eropa.
Menurut Ibrahim, kenaikan harga bahan bakar juga sebenarnya menyulitkan AS. Bukan hanya rakyatnya, tapi juga otoritas moneternya karena kekhawatiran akan meningkatnya inflasi.
Pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS masih akan mempertahankan suku bunga tinggi hingga akhir tahun ini. Sebagian bahkan memprakirakan bank sentral akan menaikkan suku bunganya.
Ekspektasi tersebut mendorong penguatan dolar AS, sehingga berimbas pada melemahnya rupiah. Ditambah isu-isu domestik yang muncul membuat para investor asing akhirnya menarik uangnya dari Indonesia.
“Khususnya persoalan manajemen Koperasi Desa Merah Putih yang berpotensi merugikan negara triliunan rupiah. Hal ini membuat kepercayaan investor terkikis,” ucap Ibrahim.
Sebelum libur Iduladha dan cuti bersama, Selasa, 26 Mei 2026, aliran keluar modal asing dari pasar saham tercatat sebesar Rp1,35 triliun.(*ade)






















