Mengharukan, Anak Zivan Radmonovic Bacakan ‘Surat Buat Ayah’

DENPASAR, Sirkulasi | Persidangan kasus penembakan di Bali memasuki pembacaan duplik kuasa hukum terdakwa Darcy Francesco Jenson berlangsung di Pengadilan Negeri Denpasar pada Senin (23/2/2026).
Jazmyn Gourdeas, Janda dari Zivan Radmanovic yang ditembak mati di sebuah vila di Bali, menghadiri sidang disertai sejumlah keluaraga mendiang suaminya. Turut juga anak ke-3 korban yang pada kesempatan tersebut membacakan surat yang ditujukan kepada Majelis Hakim.
“Ayah saya tewas ditembak dengan senjata api ilegal. Saya baru berusia 13 tahun dan sejak kejadian ini, saya harus bertanggung jawab dan menjadi kepala keluarga, merawat ibu dan saudara perempuan saya. Seharusnya saya fokus pada sekolah dan cita-cita saya. Tetapi sebaliknya, saya berusaha untuk kuat demi keluarga saya,” ujarnya.

Ia merasa terpukul atas kematian ayahnya dan bertambah sedih ketika tahu bahwa orang-orang yang bertanggung jawab atas kematian ayahnya tidak menghadapi hukuman yang sebanding dengan apa yang terjadi pada ayahnya, terutama Darcy.
“Bagaimana mungkin seseorang menghadapi hukuman mati karena membawa narkoba ke Bali, sementara seseorang yang dibayar untuk mengatur dan menggunakan senjata api ilegal, dan secara brutal menembak ayah saya, bisa bebas? Ini tidak adil. Ini membuat seolah-olah beberapa nyawa kurang berharga daripada yang lain,” lanjutnya.
Ia memohon kepada Majelis Hakim untuk memberikan hukuman seberat-beratnya paling tidak penjara seumur hidup kepada pelaku sebagai ganjaran atas kematian ayahnya.
“Dengan hormat dan rendah hati saya meminta Anda untuk mempertimbangkan konsekuensi seumur hidup yang telah ditimbulkan oleh kejadian ini pada keluarga saya. Keadilan seharusnya tidak hanya mencerminkan hukum, tetapi juga dampak nyata dan abadi bagi mereka yang ditinggalkan,” ujarnya lirih
Didampingi ibunya Jazmyn Gourdeas dan keluarga lainnya, pada kesempatan itu juga, putra Zivan Radmanovic tersebut membacakan surat pribadi yang ia tujukan kepada ayahnya tercinta.
“Ayah tersayang,
Aku datang ke pulau tempat kau diambil dari kami — bukan atas pilihanmu sendiri, tetapi karena seorang pria memerintahkan tiga orang lainnya untuk melakukan kejahatan dan menembakmu dengan brutal, merenggut nyawamu,”
Sambil menitikkan air mata, ia mengenang ketika mereka sekeluarga datang untuk berlibur ke Bali sambil merayakan ulang tahun ibu mereka.
“Tahun lalu telah meninggalkan Ibu, putri-putrimu, dan aku dengan kesedihan yang mendalam dan luar biasa. Beberapa hari kami mencoba untuk kuat, tetapi sebagian besar hari kami berjuang karena kami tidak lagi memiliki dirimu dalam hidup kami,” lanjutnya.

Menurutnya, kenangan indah yang mereka miliki tentang ayah mereka telah tertutupi oleh liputan media yang terus-menerus tentang persidangan dan tentang orang-orang yang dengan begitu gegabah melakukan kejahatan yang merenggut nyawa ayahnya selamanya.
“Ulang tahun kami, Natal, dan setiap perayaan tidak akan pernah sama lagi. Hidup terasa begitu rapuh sekarang, dan kehilangan ini telah meninggalkan bekas luka permanen di hati kami.
Aku mengambil langkah berani untuk datang ke tempat terakhir kau berada di bumi ini. Kita tidak pernah sempat mengucapkan selamat tinggal, tetapi aku membayangkan bahwa, saat kau terbaring di lantai kamar mandi itu berjuang untuk hidupmu, kau memikirkan kami,” ujarnya lirih.
“Tolong jagalah kami dan doakan kami dari atas sana, agar kami tetap kuat dan terus berjuang untuk keadilan bagimu, sehingga engkau akhirnya dapat beristirahat dengan tenang,” tutupnya.









