Berita Sirkulasi | Di balik kecanggihan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang memukau dunia, tersimpan “haus” raksasa yang mencengangkan. Berdasarkan data laporan dari Unbox Factory dan referensi media lingkungan Water Today (22 September 2026), sebuah pusat data AI skala besar dilaporkan mengonsumsi hingga 5 juta galon (sekitar 18,9 juta liter) air setiap hari hanya untuk sistem pendingin (cooling system).
Konsumsi air sebanyak itu setara dengan kebutuhan air bersih harian bagi sebuah kota kecil berpenduduk 50.000 jiwa. Lonjakan pembangunan data center AI global kini memicu kekhawatiran baru tentang krisis air bersih, di mana dahaga server digital berpotensi bersaing langsung dengan kebutuhan air minum manusia.
Setiap kali kita bertanya ke akal imitasi (AS), menyimpan foto di cloud, atau memutar musik, ada air yang menguap di suatu tempat. Dan jumlahnya tidak sedikit. Menurut Science Alert, Kamis (22/10/2026), sebuah studi terbaru mengungkap bahwa pusat data yang menopang kehidupan digital kita ternyata haus air, bahkan bisa menghabiskan air sebanyak satu kota berisi 50.000 penduduk dalam sehari. Lantas, seberapa parah dampaknya jika fasilitas ini terus dibangun tanpa mempertimbangkan ketersediaan air lokal?
1 dari 4 pusat data berada di wilayah krisis air Para peneliti dari Carnegie Institution for Science, Amerika Serikat (AS), memetakan 9.347 pusat data yang telah teridentifikasi di seluruh dunia.
Hasil dari penelitian tersebut dipublikasikan di jurnal Environmental Science & Technology. Ketika kondisi air di setiap lokasi itu dianalisis, temuannya mengkhawatirkan. Sekitar 25 persen pusat data berada di daerah yang mengalami kekurangan air setidaknya satu bulan dalam setahun, yaitu saat permintaan air melebihi pasokan. Angka itu diprediksi akan memburuk.
Dengan model iklim yang memproyeksikan kenaikan suhu global rata-rata 3 derajat Celsius dari 1900, jumlah lokasi pusat data yang kekurangan air akan meningkat menjadi 33 persen hanya dalam 10 tahun. “Fasilitas-fasilitas ini tidak dibangun di lahan kosong. Fasilitas-fasilitas ini dibangun di atas sumber air bagi kota-kota dan pertanian,” kata ilmuwan lingkungan Lorenzo Rosa, dari Carnegie Institution for Science.
Masalahnya, tidak seperti listrik yang bisa disalurkan dari jauh melalui jaringan, air harus diambil dari sumber lokal dari danau, sungai yang pasokannya bisa naik-turun tiap musim. Peta yang dibuat tim peneliti menunjukkan, 41 persen pusat data global bersaing langsung dengan kota dan kotamadya untuk mendapatkan air.
Sementara 28 persen lainnya, saingan utamanya adalah sektor pertanian. Bahkan, untuk 523 fasilitas atau lebih dari 5 persen dari total, kekurangan air sudah terjadi setidaknya 9 bulan dalam setahun. “Jejak energi pusat data telah dikuantifikasi secara rinci karena listrik diukur dan dilaporkan.
Kelangkaan air diukur secara lokal, tidak konsisten, dan seringkali tidak diukur sama sekali. Jadi, kami membuat peta ini karena peta itu belum ada,” ujar Rosa.
AS paling terdampak, risikonya bukan pada pusat data Dampak perubahan iklim pun tidak merata. Model peneliti menunjukkan, sebagian besar pusat data yang akan terdorong melampaui ambang batas kekurangan air akibat kenaikan suhu berada di AS.
Sementara di negara seperti Inggris dan Jerman, tidak akan banyak perubahan. Para peneliti mengingatkan, risiko terbesar justru bukan pada operasional pusat data itu sendiri.
“Pusat data biasanya memiliki kapasitas finansial dan prioritas kelembagaan untuk mengamankan pasokan air setiap kali air tersedia. Akibatnya, risiko utama mungkin bukan pada operasional pusat data itu sendiri, melainkan pada pengguna air lainnya di cekungan yang sama,” tulis para peneliti dalam studinya.
Sayangnya, transparansi data masih menjadi kendala. Perusahaan teknologi raksasa enggan membagikan data pasti berapa banyak air yang digunakan fasilitas mereka, sehingga pelaporan yang lebih akuntabel perlu didorong oleh regulator dan pemerintah.
Meski begitu, ada secercah harapan. Para peneliti mencatat adanya upaya penggunaan air limbah dan air laut yang telah diolah sebagai pengganti air tawar, serta peningkatan manajemen panas pusat data.
“Memastikan keberlanjutan jangka panjang pusat data akan membutuhkan pilihan lokasi dan tata kelola yang mempertimbangkan batasan hidrologi lokal,” tutup para peneliti.















