Buntut Pemain Naturalisasi Malaysia Bermasalah, Kini Holgado Dihukum FIFA dan Tak Digaji Klub

Penyerang America de Cali itu berharap isu ini dapat diselesaikan segera setelah hukuman dari FIFA
Jakarta, Sirkulasi – Pemain naturalisasi timnas Malaysia Rodrigo Holgado memutuskan untuk menjalani cuti tanpa digaji klub America de Cali selama menyelesaikan kasus hukuman dari FIFA di Kuala Lumpur, Malaysia.
Holgado merupakan pemain America de Cali, klub sepak bola kasta teratas Kolombia. Buntut dari hukuman dari FIFA, Holgado diputuskan klub dalam status cuti dan tak mendapat gaji.
Keputusan itu diungkap pihak America de Cali dalam pernyataan resmi melalui akun Instagram resmi klub pada Sabtu (4/10).
“Cuti tanpa gaji ini diambil setelah mempertimbangkan faktor pribadi pemain. Segala keputusan mengenai status Holgado berada sepenuhnya di bawa kuasa FIFA,” tulis pihak America de Cali.
Holgado merupakan salah satu dari tujuh pemain naturalisasi timnas Malaysia yang dihukum FIFA karena dokumen palsu. Ketujuh pemain naturalisasi Malaysia dihukum larangan aktivitas di dunia sepak bola selama 1 tahun.
Holgado kini berada di Malaysia bersama enam pemain lainnya. Mereka melakukan koordinasi dengan Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) untuk menentukan langkah banding terhadap hukuman dari FIFA.
Berdasarkan laporan wartawan Kolombia, Nany Florez, melalui akun media sosial X menyebut Halgado sedang menyiapkan nota banding.
“Rodrigo Holgado kini berada di Malaysia bersama wakilnya. Penyerang America de Cali itu berharap isu ini dapat diselesaikan segera setelah hukuman dari FIFA,” tulis Florez.
Tak hanya Holgado, pemain naturalisasi Malaysia lainnya, Facundo Garces, juga kembali ke Malaysia setelah ada sanksi dari klub Alaves atas statusnya selama dihukum FIFA.
Media Spanyol, Elcorreo Alava, melaporkan Garces tidak dapat membela Alaves dan kini sedang berada di Malaysia untuk mengajukan banding atas status sanksinya itu.
“Facundo Garces berada di Malaysia untuk bermufakat dengan persatuan [FAM] mengenai banding terhadap FIFA berhubung larangan bermain selama setahun,” kata laporan itu.
Pengamat Malaysia: Menuduh Indonesia Itu Kekanak-kanakan
Pengamat sepak bola Malaysia, Arnaz M. Khairul berpendapat tuduhan bahwa Indonesia melakukan sabotase terhadap hukuman FIFA kepada Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM) adalah sikap kekanak-kanakan.
Arnaz menyampaikan, dirinya bisa menerima tindakan negara lain melayangkan laporan kepada FIFA apabila ada bukti kesalahan yang dilakukan Malaysia.
“Menurut saya itu kekanak-kanakan. Bagi saya kalau Vietnam melaporkan itu hak mereka kalau memang mereka melihat ada kesalahan,” kata Arnaz di Youtube Channel 10 Malaysia.
“Menurut saya FAM juga tak perlu membuang waktu untuk mencari pihak yang perlu disalahkan,” ia menambahkan.
Komentar Arnaz diamini oleh pengamat lainnya, Zakaria Abdul Rahum. Ia berpendapat, FAM hanya perlu mengakui kesalahan dan menempuh tindakan sesuai prosedur yang berlaku.
“Dalam olahraga apapun, termasuk di politik, ada waktu bantahan. Anda mau membantah? Oke lakukan, ini terjadi di mana saja.”
“Saya perlu beri apresiasi FAM dalam situasi ini karena mengaku kesalahan tanpa menunjuk satu pihak,” ucap Zakaria.
Hal senada disampaikan oleh Pekan Ramli, pengamat sepak bola Malaysia pula. Ia melihat diskursus tentang sanksi FIFA terhadap FAM sudah melebar jauh.
“Narasinya sudah ke arah lain, ini sudah ke arah saling menyalahkan, Indonesia dan Vietnam disalahkan. Politikus Malaysia juga menyalahkan.”
“Kita harus melakukan yang betul, kita tidak perlu takut. Kalau kita memang benar, semestinya kita tidak perlu takut dihukum. Kita harus tepikan sentimen itu,” ucapnya.
Sebelumnya, FIFA menghukum tujuh pemain naturalisasi timnas Malaysia denda 2.000 CHF (setara Rp41,8 juta) serta larangan bermain 12 bulan. Selain itu FIFA menjatuhi denda 350 ribu CHF (setara Rp7,3 miliar) untuk FAM.
FAM kemudian memberi pernyataan bahwa mereka mengaku salah dalam proses teknis terkait administrasi pemain naturalisasi. Hingga tenggat 10 hari untuk mengajukan banding akan hukuman dari FIFA yang diberikan FAM juga tak kunjung mengajukan banding pada Senin (6/10).($ade)









