Jakarta, SIrkulasi | Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Agustina Arumsari, menyebut pihaknya sedang mengkaji penyesuaian ulang penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG), termasuk kemungkinan mengeluarkan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) dari kelompok ekonomi menengah atas dari daftar penerima.
Hal itu disampaikannya usai rapat dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (15/6/2026).
Ia menjelaskan, pemerintah memperoleh alokasi pagu anggaran MBG untuk 2027 sebesar Rp270.201.499.678.000 (Rp 270 triliun) untuk 81,5 juta penerima manfaat.
Sejak Juli hingga akhir 2026, BGN akan terus melakukan langkah perbaikan, salah satunya melalui refocusing penerima manfaat.
“Contoh, misalnya lah contoh gampang, untuk SMA ya mungkin tidak perlu diberikan lagi MBG. Apalagi SMA-SMA mungkin yang uang sakunya anak-anaknya sudah Rp100.000, Rp200.000 gitu ya. Mungkin yang high class gitu itu tidak perlu lagi,” kata Agustina usai rapat dengan, Senin (15/6).
Arum menyebut, refocusing tersebut dilakukan berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan dan kementerian lain, dengan fokus intervensi gizi sejak usia kandungan hingga 1.000 hari pertama kelahiran dan dilanjutkan sampai usia 2 tahun.
Langkah tersebut berpotensi mengurangi sekitar 8 juta penerima manfaat MBG, namun tidak menghilangkan esensi intervensi gizi yang dilakukan pemerintah.
Arum menambahkan, penyesuaian penerima manfaat tersebut juga akan berdampak pada penataan ulang dapur penyedia makanan, termasuk evaluasi kualitas dan standar operasional dapur agar sesuai ketentuan teknis penyediaan makanan bergizi.
Siapa saja yang bisa menerima Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai direvisi Badan Gizi Nasional (BGN). Sebelumnya BGN sudah memutuskan 76 sekolah di Pulau Jawa tidak akan lagi menerima Makan Bergizi Gratis karena sekolah-sekolah itu tergolong mampu mencukupi kebutuhan gizi sendiri.
“Mereka secara mandiri mampu memenuhi kebutuhan gizi mereka, tidak membutuhkan intervensi dari pemerintah,” kata Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari, pada Kamis (18/6/2026).
Sari menyampaikan, keputusan untuk mencoret 76 sekolah dari daftar penerima manfaat MBG dilakukan berdasarkan pendataan yang telah disusun oleh pemerintah. “Sampai dengan hari ini, tanggal hari ini, kami sudah melakukan pendataan dan sudah teridentifikasi 76 sekolah di Pulau Jawa sementara ini,” ujar Sari.
Saat ini penerima manfaat akan diefisiensi dengan memfokuskan untuk program MBG kepada anak-anak yang memerlukan intervensi pemenuhan gizi. Meski belum dirinci secara keseluruhan, namun siapa saja yang bisa dan tak bisa lagi mendapatkan MBG? Siapa saja yang bisa mendapatkan MBG?
1. Ibu hamil Baca juga: Jawab BEM UI, Istana Nyatakan MBG Tak Akan Disetop Sari mengatakan ibu hamil masih terus mendapatkan MBG. Fokusnya untuk mencegah stunting sejak masa kandungan.
2. Ibu menyusui Selain ibu hamil, ibu menyusui masih menjadi prioritas penerima MBG. Diberikan MBG, guna menjaga kualitas ASI dan pemenuhan gizi bayi.
3. Balita Baca juga: Mensos: Tidak Boleh Ada Siswa “Titipan” di Sekolah Rakyat pada Tahun Ajaran Baru Menjadi prioritas untuk mendukung tumbuh kembang di periode emas.
4. Siswa dari daerah 3T Diutamakan bagi pelajar di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar yang minim akses pangan bergizi.
5. Siswa dari keluarga kurang mampu
Sekolah dan siswa dari keluarga mampu tak dapat MBG Siswa SMA juga berpotensi tak dapat MBG. Ia mengatakan akan memangkas jumlah penerima manfaat seperti anak-anak SMA yang berasal dari kelas atas.
“Misalnya lah contoh gampang, untuk SMA ya mungkin tidak perlu diberikan lagi MBG. Apalagi SMA-SMA yang, mungkin yang uang sakunya anak-anaknya sudah Rp 100.000, Rp 200.000 gitu ya,” sebut sari mengutip tribunbogor.
Menurut dia, jika anak-anak yang mampu dikeluarkan dari daftar penerima MBG, tentu hal ini dapat mengurangi sekitar 8 juta penerima manfaat.
Selain itu BGN sedang menyisir sekolah yang secara mandiri bisa memenuhi gizi siswanya.
“Tapi masih akan terus, jadi akan terus bertambah karena memang kami melihat beberapa indikator, ya. Ada kerentanan gizi, kondisi sosial ekonomi, akses terhadap pemenuhan gizi, dan sebagainya,” jelasnya.
“Sekali lagi, hal ini kami lakukan agar program Makan Bergizi Gratis ini benar-benar secara efektif, ya, efektif itu diberikan kepada memang yang tepat sasaran,” tutup Sari.(*ade)






















