Tercatat Ada 62 Kasus ‘Super Flu’ Di Indonesia, Apa Saja Gejalanya Dan Apakah Meningkatkan Risiko Kematian?

Sejumlah negara bagian AS saat ini mencatat prevalensi influenza sangat tinggi, di antaranya Colorado, Louisiana, New Jersey, New York, dan South Carolina.
Di Indonesia, hasil pemeriksaan Kementerian Kesehatan menunjukkan “super flu” telah terdeteksi sejak Agustus 2025.
Berdasarkan hasil pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) hingga akhir Desember 2025, tercatat sebanyak 62 kasus influenza A subclade K ditemukan di delapan provinsi.
Tiga provinsi dengan jumlah kasus terbanyak antara lain Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.
Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, Prima Yosephine, dalam siaran persnya menyebutkan sebagian besar kasus ditemukan pada perempuan dan kelompok usia anak.
Dari 843 spesimen positif influenza, sebanyak 348 sampel menjalani pemeriksaan WGS. Seluruh varian yang terdeteksi merupakan varian yang dikenal dan bersirkulasi secara global.
Apa saja gejala super flu dan apakah bisa mengakibatkan kematian?
Dokter spesialis paru RS Persahabatan, Agus Dwi Susanto, agak meragukan jumlah kasus “super flu” di Indonesia.
Sebab, jika ketahuan sudah terdeteksi masuk ke Indonesia sejak Agustus 2025, maka semestinya angkanya lebih dari yang tercatat sekarang.
“Coba saja pakai persentase, 62 kasus itu dari 843 spesimen saja yang diperiksa. Bayangkan kalau kasus influenza selama Agustus sampai Desember berapa ribu? Artinya sebenarnya lebih banyak jangan-jangan,” ungkapnya kepada BBC News Indonesia, Jumat (02/01).
Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Tjandra Yoga Aditama, juga berpendapat sama.
Ia berkata tidak begitu yakin bahwa jumlah kasus “super flu” di Indonesia ada 62, mengingat di negara-negara seperti Thailand, Malaysia, dan Jepang, terjadi “peningkatan kasus yang tinggi”.
Pola global tersebut, kata dia, semestinya juga berlaku di Indonesia.
“Jadi, saya kok enggak begitu yakin hanya 62. Kalau bisa surveilans genomiknya diperluas, sehingga kita tahu apakah sekarang H3N2 banyak atau tidak. Kemudian surveilans gejala, artinya dilihat apakah ada peningkatan influenza yang berkunjung ke poliklinik, apalagi kalau sampai masuk ke rumah sakit,” paparnya.
Tapi terlepas dari itu, Agus Dwi Susanto, menyebutkan ada beberapa gejala “super flu” yang patut diwaspadai lantaran varian baru ini memiliki gejala lebih berat dibandingkan flu musiman pada umumnya. Yakni, demam tinggi antara 39 sampai 41 derajat Celcius.

