GIANYAR, Sirkulasi | Sempat terdampak desas-desus isu global di awal tahun, pelaku usaha kuliner di Gianyar mulai memutar strategi dengan menggarap pasar wisatawan lokal. Salah satunya dilakukan Bebek Bengil yang kini fokus memperkuat penetrasi pasar domestik dengan tetap mengedepankan kualitas produk dan pengalaman bersantap.
Owner representatif, Anak Agung Gede Diva Suputra, mengatakan pihaknya optimistis kunjungan akan kembali normal seperti sebelumnya. Bali dinilai tetap memiliki daya tarik kuat, mulai dari lanskap persawahan asri di Ubud hingga panorama pantai di kawasan Nusa Dua dan Jimbaran.

“Sekarang kita lebih fokus menggaet wisatawan lokal. Kita optimistis bisa kembali seperti sebelumnya dengan strategi yang tepat,” ujarnya.
Ia menilai, keunggulan utama yang ditawarkan terletak pada kualitas makanan dan suasana restoran yang masih alami. Lanskap sawah yang asri menjadi nilai tambah tersendiri dibandingkan kompetitor, sekaligus diperkuat dengan penataan tempat yang kini lebih modern dan instagramable untuk menjangkau generasi kekinian.
Dari sisi menu, Bebek Bengil tetap mengandalkan hidangan khas seperti bebek timbungan, bebek crispy, bebek pelalah, hingga sambal ijo. Dalam sehari, tiga outlet yang dikelola mampu menjual hingga 500–600 porsi.
Untuk menjaga konsistensi rasa, seluruh proses pengolahan dilakukan secara terpusat melalui central kitchen dengan standar ketat. Bahan baku dipilih secara selektif melalui supplier khusus, sementara teknik pengolahan menjadi pembeda utama.

“Kita punya central kitchen, jadi kualitas lebih terkontrol. Prosesnya juga berbeda, termasuk teknik memasak yang lebih lama untuk menghasilkan rasa maksimal,” jelasnya.
Menariknya, metode pengolahan yang digunakan juga diklaim mampu menekan kadar kolesterol pada daging bebek, berkat racikan bumbu rahasia dan teknik memasak khusus.
Lebih dari itu, kekuatan utama Bebek Bengil terletak pada konsistensi menjaga cita rasa sejak berdiri pada 1990. Warisan resep dari sang kakek (mendiang) tetap dipertahankan hingga kini, menjadi fondasi dalam menjaga kualitas sekaligus identitas kuliner yang khas.
Dengan perpaduan cita rasa legendaris, standar pengolahan modern, serta sentuhan konsep tempat yang mengikuti tren, manajemen optimistis mampu memperkuat daya saing dan menarik lebih banyak wisatawan lokal di tengah dinamika industri pariwisata Bali pada khususnya.(*)






















