Injourney Media Tour Nusadua, 4 Tahun Tumbuhkan Ekosistem Pariwisata Berkelanjutan Dan Bangun Aviasi Terintegrasi

InJourney mengimplementasikan berbagai inisiatif strategis yang mencakup pemanfaatan energi terbarukan, elektrifikasi operasional, pengelolaan air dan limbah, serta program rehabilitasi lingkungan.
Badung, Sirkulasi | Holding BUMN sektor aviasi dan pariwisata, PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney merayakan tahun keempat kehadirannya di Tanah Air menyelenggarakan Media Tour bersama sejumlah awak media di Amarterra Villa, The Nusa Dua, Bali pada Selasa (20/1/). Sejak dibentuk pada Januari 2022, InJourney menjalankan perjalanan transformasi yang berfokus pada penguatan fundamental anak perusahaan melalui integrasi aset, penguatan tata kelola operasional dan manajerial, serta peningkatan kualitas layanan dan pengalaman pelanggan. Upaya tersebut membuahkan pencapaian penting berupa profitabilitas grup secara menyeluruh, yang dicapai melalui pendekatan kolaboratif berbasis gotong royong, didukung sinergi erat dengan Pemerintah dan para pemangku kepentingan.
Herdy Harman, Direktur SDM dan Digital InJourney, menekankan bahwa keberlanjutan dan tanggung jawab dalam berbisnis merupakan fondasi utama transformasi pariwisata nasional. Menurutnya, pembangunan tidak hanya berhenti pada infrastruktur dan program, tetapi juga harus menyentuh aspek paling esensial, yaitu manusia.
“Membangun infrastruktur adalah satu hal, tetapi membangun manusia adalah hal lain yang sama pentingnya. Program yang baik harus diiringi dengan kesiapan sumber daya manusia agar transformasi dapat berjalan berkelanjutan dan memberikan dampak jangka panjang,” tegas Herdy.

Ia menambahkan bahwa, kerangka pariwisata keberlanjutan InJourney ditopang oleh dua pilar utama, yaitu lingkungan (environment) dan sosial-ekonomi (socio-economic). Pada pilar lingkungan, InJourney berfokus pada pengelolaan air dan limbah yang bertanggung jawab, penguatan strategi iklim dan lingkungan, serta perlindungan keanekaragaman hayati dan upaya konservasi. Inisiatif-inisiatif ini dirancang untuk meminimalkan dampak lingkungan dari aktivitas aviasi dan pariwisata, sekaligus mendorong penerapan praktik ramah lingkungan di seluruh rantai nilai.
“Harapannya Nusadua bisa menjadi contoh, mengingat Nusadua yang pertama sebagai cikal-bakal BTDC sehingga sistim integrasi ini bisa terkoneksi dengan mengembangkan sebanyak mungkin kawasan tujuan wisata yang baru, transformasi bandara dan peningkatan konektivitas udara, pengembangan destinasi budaya dan edukasi seperti Borobudur dan Taman Mini Indonesia Indah, pembangunan International Medical Tourism di KEK Sanur, serta pengembangan Mandalika dan Golo Mori,” ujarnya.

Sementara itu, Anak Agung Istri Ratna Dewi, President Director ITDC Nusantara Utilitas memaparkan pengelolaan sumber daya dan limbah di kawasan ITDC Nusadua, InJourney Group menerapkan pendekatan terpadu berbasis prinsip ekonomi sirkular. Sepanjang implementasinya, pengelolaan limbah padat mencapai 97.82 m³, atau setara 19.92 ton per hari. Dari total tersebut hanya 11, 99 m³ yang berhasil ditangani didalam kawasan sementara sisanya diangkut keluar oleh vendor pengelola sampah.

Acara Media Gathering dimulai dari kawasan ITDC di Amarterra Villa, The Nusa Dua dilanjutkan mengunjungi Lagoon dimana seluruh awak media menyaksikan pemanfaatan air daur ulang sebesar 1.728.304 m³ telah dilakukan untuk mendukung efisiensi penggunaan air di berbagai destinasi.
Kemudian, kunjungan dilanjutkan fasilitas Seawater Reverse Osmosis (SWRO) yang menghasilkan 331.382 m³ air bersih, mengurangi ketergantungan pada air tanah dan meningkatkan ketahanan kawasan terhadap risiko perubahan iklim. SWRO memanfaatkan air laut sebagai sumber air bersih alternatif, sehingga mengurangi ketergantungan pada air tanah dan sumber air tawar. Selain itu, pengimplementasian SWRO dapat menekan risiko kelangkaan air akibat perubahan iklum dan memperkuat ketahanan air.
InJourney mengimplementasikan berbagai inisiatif strategis yang mencakup pemanfaatan energi terbarukan, elektrifikasi operasional, pengelolaan air dan limbah, serta program rehabilitasi lingkungan. Pemanfaatan energi surya (PLTS) telah diimplementasikan di sembilan bandara utama menghasilkan 10.760 MWh energi terbarukan per tahun dan berpotensi menghindari emisi sebesar 9.860 ton CO2e per tahun, setara dengan penyerapan karbon oleh 272 ribu pohon. Upaya ini menjadi fondasi transisi energi di sektor aviasi dan pariwisata yang dikelola InJourney.

Terakhir, kunjungan diakhiri dengan kegiatan penanaman pohon pengahijauan sebagai implementasi berbagai inisiatif strategis yang mencakup pemanfaatan energi terbarukan, elektrifikasi operasional, pengelolaan air dan limbah, serta program rehabilitasi lingkungan.
“Pemanfaatan energi surya (PLTS) telah diimplementasikan di sembilan bandara utama menghasilkan 10.760 MWh energi terbarukan per tahun dan berpotensi menghindari emisi sebesar 9.860 ton CO2e per tahun, setara dengan penyerapan karbon oleh 272 ribu pohon. Upaya ini menjadi fondasi transisi energi di sektor aviasi dan pariwisata yang dikelola InJourney, ujar Ratna.

Sejalan dengan itu, InJourney mempercepat adopsi kendaraan dan peralatan listrik di seluruh lini bisnis. Hingga saat ini, InJourney telah mengoperasikan 716 unit kendaraan dan peralatan listrik, terdiri atas ground support equipment (GSE), buggy car, mini bus, golf cart, dan moda transportasi lainnya di berbagai destinasi pariwisata, sebagai langkah konkret untuk menurunkan ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mengurangi emisi operasional.
Sebagai bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim, InJourney juga menjalankan program penanaman 40.000 pohon mangrove di seluruh wilayah operasional. Program ini diproyeksikan dapat memperkuat ketahanan ekosistem pesisir dan mendukung keberlanjutan destinasi pariwisata.
“Melalui rangkaian inisiatif tersebut, InJourney menegaskan komitmennya untuk menjadikan keberlanjutan sebagai bagian dari strategi bisnis dan pengelolaan destinasi. Pendekatan ini memastikan bahwa transformasi aviasi dan pariwisata tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat ketahanan lingkungan, efisiensi sumber daya, serta meninggalkan legacy hijau yang berkelanjutan bagi generasi mendatang,” tutup Ratna.(*ade)









