Tercatat Ada 62 Kasus ‘Super Flu’ Di Indonesia, Apa Saja Gejalanya Dan Apakah Meningkatkan Risiko Kematian?

Sejumlah negara bagian AS saat ini mencatat prevalensi influenza sangat tinggi, di antaranya Colorado, Louisiana, New Jersey, New York, dan South Carolina.
“Kalau yang [flu] biasa paling 37-38,5 derajat Celcius, [subclade K] bisa sampai 41 derajat menurut data. Lebih tinggi artinya,” jelasnya.
“Terus disertai nyeri otot yang hebat, lemas sekali. Kemudian sakit kepala berat, sakit tenggorokan, dan batuk kering.”
“Mungkin masyarakat sudah sering kena flu kan, tahu lah rasanya seperti apa. Nah ini level derajatnya lebih berat dari yang biasa dialami. Kalau mengalami, perlu waspada,” kata Agus.
Pada umumnya, kasus influenza musiman biasa, bisa menimbulkan risiko kematian. Terutama pada populasi yang rentan dan adanya komplikasi.
Dalam kasus subclade K, Agus menyebut meskipun subclade K lebih agresif dan mudah menyebar, tapi menurut WHO, risiko kematian berdasarkan tidak berbeda dengan influenza musiman.
“Kalau biasanya flu cuma hidung meler, sakit tenggorokan, ringan. Sekarang jadi sakit kepala, ototnya sakit, demam tinggi 39 sampai 41 derajat, terus lemas… nah itu gejala subclade K,” tuturnya.
Penanganan apa yang mesti dilakukan dan apa pencegahannya?
Kendati demikian, masyarakat tidak perlu khawatir karena pada umumnya influenza varian subclade K ini bisa disembuhkan, kata Agus Dwi Susanto.
“Yang penting segera konsultasi ke tenaga medis, dokter, atau ke fasilitas kesehatan untuk bisa mendapat pengobatan. Istirahat yang cukup, suplemen yang cukup,” jelasnya.
“Untuk populasi yang berisiko memiliki penyakit dasar mungkin perlu dirawat. Karena komplikasinya itu yang kita harus jaga supaya tidak menimbulkan risiko lebih tinggi.”
“Jadi indikasi rawat pada dasarnya seperti influenza secara umum. Kapan rawat jalan, kapan rawat inap, ya sama,” tambahnya.
“Tentunya sebagai tenaga medis harus lebih aware juga, kapan ini perlu dirawat dan kapan rawat jalan.”
Soal pencegahan, salah satu yang bisa dilakukan dengan vaksin influenza.
Tjandra Yoga Aditama mengatakan vaksin tersebut dibuat berdasarkan subvarian H3N2 yang lama, bukan subclade K.
Namun, katanya, beberapa penelitian menyebutkan vaksin itu masih punya efektivitas mencegah penularan “super flu” walaupun tidak setinggi untuk H3N2.
Anjuran resmi Badan Kesehatan Dunia, WHO, juga menyatakan vaksin influenza bisa tetap diberikan.
“[Meskipun] efektivitasnya pada anak hanya 70% dan orang dewasa 40%,” kata Tjandra Yoga.
“Tapi karena itu yang kita punya, silahkan dimanfaatkan kalau memang mau dilakukan,” ujarnya.
Pencegahan lainnya dengan menjaga kebersihan lingkungan, cuci tangan dengan teratur, memakai masker bila kontak dengan penderita atau di keramaian. Selain itu, jika sakit disarankan tidak keluar rumah dan jika terpaksa pakai masker serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Tjandra Yoga juga menuturkan, meskipun penyebarannya cepat dan agresif, tapi kasus “super flu” tidak akan mengarah pada pandemi.
“Tentu saja kalau nanti berubah lagi mutasinya, lain cerita lagi. Tapi kalau situasinya sampai sekarang saja, maka ini bukan ke arah pandemi,” ucapnya.
Langkah Kemenkes
Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, Prima Yosephine, mengatakan pemantauan lebih lanjut terhadap “super flu” akan terus diperkuat melalui surveilans, pelaporan, dan kesiapsiagaan untuk merespons perkembangan situasi influenza di Indonesia dan global.

