Indonesia Memperkuat Deteksi Dini Penularan Virus Nipah yang Mengancam

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan, penularan sering terjadi dari kebiasaan yang terlihat sepele. Mulai dari makan tanpa memastikan keamanan makanan tersebut.

Jakarta, Sirkulasi | Meski belum ditemukan kasus Virus Nipah di Indonesia, ancaman virus nipah yang menghantui kawasan Asia Selatan, juga membuat khawatir khususnya di Indonesia. Kementerian Kesehatan RI telah menyiapkan langkah pencegahan berlapis.

Menurut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, sumber penularan virus tersebut sangat sederhana, bukan dari udara dan bukan pula dari sentuhan acak. Penularan virus ini bisa melalui buah yang telah terbuka dan terkontaminasi oleh gigitan hewan Kelelawar.

“Penyakit ini penularannya lewat buah yang sudah digigit kelelawar, karena ludahnya masuk ke sana. Jadi kalau bisa jangan makan buah yang terbuka,” kata Budi Gunadi Sadikin.

Lebih lanjut, Menkes Budi menyarankan langkah paling sederhana, dengan mengelupas buah sendiri atau makan makanan matang. Kalau bisa makan jeruk yang tertutup lalu dikelupas sendiri atau lebih aman lagi makan nasi sama daging yang dimasak,” katanya.

Secara global, Menkes menjelaskan virus nipah dikenal memiliki fatality rate tinggi, bahkan bisa mencapai lebih dari 40–70 persen pada sejumlah wabah. Artinya, lebih dari separuh pasien bisa meninggal.

“Catatannya fatality rate-nya tinggi. Kalau orang kena, kemungkinan meninggalnya besar,” ucap Budi.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Murti Utami menjelaskan, virus ini berasal dari kelelawar buah sebagai inang alami. Virus kemudian menyebar dari kelelawar ke babi ternak, lalu menginfeksi manusia hingga menular melalui kontak erat.

“Virus nipah memiliki inang alami kelelawar buah. Lalu dapat menular melalui hewan perantara seperti babi,” ucap Murti.

Murti menegaskan penularan virus nipah tidak berhenti dari situ saja, mengkonsumsi nira atau aren mentah juga berisiko. Pasalnya, cairan tersebut sering terkontaminasi kelelawar pada malam hari.

“Sebelum mengonsumsi aren atau nira sebaiknya dimasak terlebih dahulu,” ujarnya. Gejalanya menyerupai flu ringan, namun dapat berkembang cepat menjadi infeksi paru berat hingga radang otak mematikan.

Murti juga mengatakan beberapa pasien bahkan meninggal dalam keadaan hitungan hari. “Manifestasi klinisnya bervariasi, dari gejala ringan sampai kondisi berat yang mengancam jiwa,” kata Murti.

Secara resmi, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan bahwa Indonesia belum mencatat kasus konfirmasi. “Hingga saat ini belum terdapat laporan kasus konfirmasi penyakit virus nipah pada manusia di Indonesia,” ucap Murti menegaskan.

Namun penelitian dalam negeri menemukan antibodi dan jejak virus pada kelelawar buah. Artinya, sumber alami virus sudah ada. Dengan mobilitas manusia lintas negara yang tinggi, peluang masuknya virus tetap terbuka.

Di balik pernyataan publik, Kemenkes sebenarnya sudah mempersiapkan sistem deteksi. Reagen PCR telah disiapkan dan disebar ke laboratorium rujukan, terutama di kawasan timur Indonesia.

Setiap kasus pneumonia berat, ISPA, atau batuk lama kini dianalisis lebih detail. “Sekarang kita siapkan screening-nya, masih pakai PCR dan reagen-reagennya sudah siap. Kalau ada yang dicurigai, langsung kita periksa,” kata Murti.

Pendekatan ini mirip pada masa Pandemi Covid-19 mulai dari deteksi dini, pelacakan cepat, isolasi segera. Namun pemerintah belum melihat urgensi menutup perbatasan.

“WHO juga tidak merekomendasikan nutup border. Karena kasusnya masih sangat sedikit,” ujarnya.

Kewaspadaan meningkat setelah India kembali melaporkan kasus, dua tenaga kesehatan terinfeksi di West Bengal. Lebih dari 120 kontak erat harus dikarantina.

Juru Bicara Kemenkes Widyawati memastikan Indonesia terus memantau. “Setiap informasi terbaru kami analisis untuk memastikan respons cepat jika ada potensi risiko masuk ke Indonesia,” katanya.

Epidemiolog Gilbert Simanjuntak mengingatkan virus nipah tidak menyebar bebas di udara seperti influenza atau Covid-19. Artinya, pencegahan masih sangat mungkin dilakukan.

“Penularan ini bukan seperti virus biasa yang lewat udara. Jadi bukan sekadar pakai masker lalu aman. Kontak erat dan makanan terkontaminasi justru lebih berisiko,” ucapnya.

Pada akhirnya, perlindungan pertama ada di tangan masyarakat sendiri mulai dari mencuci, mengupas dan memasak. Kebiasaan kecil yang bisa menjadi pembatas antara sehat dan wabah.

Ancaman nipah mungkin belum tiba. Tapi sejarah pandemi mengajarkan satu hal: kesiapan selalu lebih murah daripada penyesalan.(ade)

Back to top button