Badung, Sirkulasi | Sehubungan dengan meningkatnya kasus penularan Virus Nipah di luar negeri, kami secara intensif melakukan koordinasi dengan Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Denpasar dalam hal pengawasan di lingkungan bandara. Seluruh personel di lingkungan bandara berkomitmen untuk melakukan pengawasan secara ketat dan menyeluruh dalam pencegahan penularan Virus Nipah di area kedatangan bandara.
“Dalam hal pengawasan Virus Nipah, terdapat 2 unit thermal scanner di kedatangan internasional, 1 unit di kedatangan domestik, dan 1 unit yang disiagakan di terminal VIP. Jika ditemukan penumpang yang menunjukkan gejala, maka akan ditindak lanjuti pihak BBKK dengan merujuk penumpang tersebut ke Rumah Sakit Umum Pusat Prof. dr. I.G.N.G Ngoerah, Denpasar.” ujar Humas PT Angkasa Pura Indonesia Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Gede Eka Sandi Asmadi pada Rabu, (28/1).
Bagi penumpang yang akan terbang dari dan menuju Pulau Bali, kami imbau untuk terus menjaga kesehatan dan senantiasa memantau perkembangan informasi terkini terkait Virus Nipah demi keamanan dan kenyamanan bersama.
Adapun bagi penumpang yang merasa kondisi kesehatannya menurun dan terdapat gejala awal Virus Nipah seperti demam, kami imbau untuk segera menghubungi petugas bandara terdekat atau petugas BBKK di bandara.
Apa Itu Virus Nipah?
Virus nipah (NiV) adalah virus zoonosis yang berarti dapat menular dari hewan ke manusia. Virus ini termasuk dalam genus Henipavirus dan keluarga Paramyxoviridae. Pertama kali diidentifikasi pada tahun 1998 di Malaysia saat terjadi wabah di kalangan peternak babi.
Sejak saat itu, virus nipah terus menjadi perhatian dunia karena potensi pandeminya dan tingkat kematian yang tinggi.
Menurut data dari World Health Organization (WHO), infeksi virus nipah dapat menyebabkan penyakit yang parah pada manusia, mulai dari infeksi pernapasan hingga ensefalitis (radang otak) yang mematikan.
Sampai saat ini, belum ada vaksin atau pengobatan khusus untuk infeksi virus nipah, sehingga pencegahan menjadi kunci utama.
Cara Penularan Virus Nipah
Virus nipah menyebar melalui beberapa jalur utama:
- Hewan ke manusia: Kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, terutama kelelawar buah dan babi. Peternak babi dan orang yang sering berinteraksi dengan hewan berisiko tinggi terinfeksi.
- Makanan terkontaminasi: Mengonsumsi produk makanan yang terpapar cairan tubuh hewan terinfeksi, seperti nira kelapa mentah yang dikumpulkan di dekat habitat kelelawar atau buah-buahan yang digigit kelelawar.
- Manusia ke manusia: Kontak erat dengan cairan tubuh (darah, urin, air liur, atau cairan pernapasan) dari orang yang terinfeksi. Penularan ini sering terjadi di lingkungan rumah sakit atau keluarga.
Berbagai Gejala Virus Nipah yang Perlu Dikenali
Rentang waktu munculnya gejala setelah terpapar virus Nipah (masa inkubasi) adalah sekitar 4–14 hari. Gejala awal infeksi virus Nipah bisa mirip dengan gejala flu biasa. Kemudian, saat infeksi berlanjut, akan muncul gejala berat akibat peradangan dan pembengkakan otak (ensefalitis) hingga kematian.
Setelah masa inkubasi selesai, akan muncul gejala awal yang bisa berlangsung selama 3–14 hari pertama. Gejala-gejala yang bisa muncul adalah sebagai berikut:
- Demam
- Sakit kepala
- Batuk
- Sakit tenggorokan
- Nyeri otot
- Sulit bernapas
- Diare
- Muntah
Jika infeksi berlanjut, akan muncul gejala yang berat dan parah akibat ensefalitis. Berikut ini adalah beberapa gejala yang terjadi di fase radang otak:
- Kantuk berat
- Perasaan kebingungan dengan tempat dan waktu (disorientasi)
- Sulit fokus dan konsentrasi
- Kejang
- Koma
Gejala radang otak ini bisa dengan cepat memburuk, biasanya dalam 24–48 jam. Pada sekitar 40–75% kasus infeksi virus Nipah yang berat, kematian bisa terjadi setelah gejala radang otak muncul.
Beberapa kasus infeksi virus Nipah juga ada yang bersifat laten. Artinya, munculnya gejala, baik yang ringan maupun berat, baru terjadi setelah beberapa bulan hingga tahun sejak pertama kali terinfeksi.
Sampai saat ini, belum ada obat yang dapat menyembuhkan infeksi virus Nipah, begitu pula vaksin untuk mencegah penyakit ini. Penanganan yang ada difokuskan untuk mengobati gejala, mencegah kekurangan cairan, dan membiarkan penderita untuk beristirahat.
Namun, ada beberapa obat yang dinilai berpotensi untuk digunakan dalam penanganan virus Nipah, yaitu imunoterapi dengan antibodi monoklonal, remdesivir, dan ribavirin.
Meski belum ada laporan kasus infeksi virus Nipah di Indonesia, Anda tetap perlu waspada karena virus tergolong mudah menular dari hewan atau orang yang terinfeksi sehingga dianggap berpotensi menjadi pandemi. Sebisa mungkin, hindari kontak dengan hewan atau orang yang sakit, terutama di daerah tempat terjadinya wabah.
Apabila Anda pernah kontak dengan hewan atau orang yang diduga terinfeksi virus Nipah dan mengalami gejala demam, batuk, nyeri otot, sakit kepala, serta lemas, jangan ragu untuk segera memeriksakan diri ke dokter guna mendapatkan penanganan yang tepat.(*ade)
Sumber: Kemenkes
Referensi:
Hafeez, M., et al. (2025). Navigating Nipah Virus: Insights, Challenges, and Recommendations. New Microbes and New Infections, 64, pp. 101575.
Madhukalya, R., et al. (2025). Nipah Virus: Pathogenesis, Genome, Diagnosis, and Treatment. Applied Microbiology and Biotechnology, 109(1), pp. 158.
Garbuglia, A., et al. (2023). Nipah Virus: An Overview of the Current Status of Diagnostics and Their Role in Preparedness in Endemic Countries. Viruses, 15(10), pp. 2062.
World Health Organization (2024). Nipah Virus Infection.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2023). Mengenal Virus Nipah Dan Gejalanya.
Cleveland Clinic (2023). Nipah Virus.


















